One Direction Fan Fiction (Bahasa Indonesia) "Jetlag" Part 2
*** Lolita’s POV ***
Aku sekarang uda nyampe di
kamar hotel. Aku segera menghempaskan tubuhku ke kasur hotel yang
super duper empuk itu. Dan ga berselang lama, aku segera membuka
laptopku, dan lihat twitter serta facebookku. Saat aku membuka
twitter, The Boys dan akun one direction follow back aku! Uwaaa…..
aku langsung jejingkrakan di kamar. Ga nyangka aku di follow balik.
Dan setelah tenang, aku segera nge-post di wall milik Jennifer. ‘You
won’t believe this! I met One Direction at the airport. We talked
and they follow me back on twitter…..!!!! ♪┏(・o・)┛♪┗
( ・o・)
┓♪┏ (・o・)
┛♪┗ (・o・
) ┓♪┏(・o・)┛♪’
Dan ga lama dia bales ‘ How
come?!?!?!? Eh, jangan lupa minta’in tanda tangan Louis di
t-shirtku ituuuuu’
‘Siip. Pasti. Itu kalo aku
ketemu dia lagi :p’
Saat aku sedang mengaduk-aduk
isi kulkas di kamar tempat aku menginap, tiba-tiba ada yang bunyi
dari laptopku. Segera aku lari dan melihat laptopku. Ternyata ada
mention dari Rio. Dia ngajak aku buat keluar jalan – jalan sekalian
dinner, kebetulan nih aku juga laper. Aku segera membalas mentionnya
dan setuju buat ajakannya. Ga berapa lama, dia bales dengan minta
alamat hotel tempat aku menginap di LA. Aku bales lewat DM.
Kira – kira 20 menit
kemudian, aku udah siap. Tinggal nunggu Rio. Iseng aku nge-check
twitterku. Oh My! Harry Styles tweeted me. I freaked out at that
moment. Walaupun, cuma say ‘Hi Lollypop!” Tanpa buang-buang waktu
lagi, aku segera bales mention dia. Dan ga lama Rio datang. Kita
langsung pergi jalan – jalan.
“Lolita” Kata Rio saat dia
nganter aku sampe depan kamar hotelku.
“Ya” aku berbalik dan
menghadap dia.
“Mmmm…” Dia segera
menyerahkan sekotak coklat yang tadi dia beli di sebuah mall saat
kita jalan-jalan tadi.
“Apa ini?” tanyaku heran,
dan aku terus memandang kotak coklat yang dia sodorkan ke aku.,
“Bukankah ini buat adik kamu?”
“Awalnya sih. Tapi, aku baru
tahu kalau dia berangkat dari Indonesia empat hari lagi. Daripada
coklat ini leleh, mending aku kasih ke kamu aja. Nih.” Katanya
sambil menyodorkan coklat itu lagi.
“Ok, Thanks ya” jawabku
sambil menerima coklatnya.
Keeseokan paginya aku
terbangun gara – gara alarm yang aku set 6 a.m dan hal pertama yang
aku pegang adalah my black iPhone 4. Dan aku segera checking
facebook. Banyak friend request, postingan dari fans dan ada inbox
dari produserku. Aku segera membuka, dan dia ngasi aku alamat seorang
composer dan produser yang rencananya akan ku temui nanti jam 11
siang. Aku segera siap-siap.
Aku segera naik taksi yang aku
dapet setelah keluar dari hotel. Sebelum, aku ke rumah produser itu,
aku mampir dulu ke sebuah restoran kecil yang aku rasa ini adalah
restoran keluarga.
Restorannya sangat nyaman
dengan ornament – ornament yang biasanya kita temukan di rumah gaya
amerika klasik. Pigora – pigora kecil dengan foto – foto
keluarga. Aku memilih duduk di dekat jendela dan segera memesan
makanan. Aku pesan Bacon, egg, sausage dan roasted bread. Klasik.
Sambil menunggu pesananku
datang. Aku melihat kondisi jalanan LA di pagi hari. Ternyata ga jauh
berbeda sama Indonesia. Macet. Aku segera mengalihkan pandanganku ke
arah pintu masuk. Karena aku melihat The boys sedang masuk ke dalam
restoran yang sama dengan aku.
*** Harry’s POV ***
Pagi ini kita memilih buat
makan di restoran yang ga jauh dari hotel tempat kita menginap. Saat
masuk ke restorannya, suasana cukup ramai. Sehingga kami harus
mencari – cari meja yang kosong.
“Hey Lolita!” kata Liam
menyapa cewek yang sedang duduk di meja dekat jendela. Kami semua
jalan menuju arah mejanya dan aku langsung menyerobot kursi yang mau
diduduki sama Liam.
“Alright Harry I’ma look
for another seat.” Katanya sambil melihat ke arahku. Aku hanya
nyengir waktu dia bilang gitu. Dan Lou mengambil tempat duduk di
sebelahku.
“What are you doing here
sweetie?” kataku memulai percakapan dengan dia.
“well,you see everybody’s
here want something to full up their tummy.” Katanya datar.
Ga lama ada seorang waitress
yang mendatangi meja kami. Kami memulai memesan makanan. Setelah itu
dia pergi.
“What are you doing around
this block?” Tanya Louis sama Lolita.
“I’m going to meet a
producer and his office is not too far from this block.” Jawabnya
sambil senyum lalu meminum orange juicenya.
“we’re too.” Aku
langsung menanggapi dengan semangat. Saat makanan kita semua datang,
kita langsung menyerbunya. Termasuk Lolita. Dia juga menceritakan
negaranya Indonesia.
“I hope you guys can come
and visit Indonesia. I guarantee you guys; you won’t regret it once
you come to Indonesia.” Jelasnya
Makanan yang sudah kita pesan
datang. Lalu, kita mulai makan sambil diselangi joke-joke dari Louis.
Setelah selesai makan, kita baru tahu kalau ternyata Lolita juga mau
menemui produser yang sama Jadi dia kita ajak bareng naik mobil kita.
Sebenarnya jarak dari restaurant tempat kita makan tadi sama kantor
produser ga jauh sih. Tapi berhubung lagi macet, ada mungkin sekitar
20 menit lama perjalanannya. Selama dalam perjalanan, aku berusaha
ngajak ngomong Lolita, tapi ga bisa. Dia sedang asyik ngobrol sama
Liam. Tapi aku tahu, kalau dia kadang-kadang juga suka ngelirik ke
arahku. Saat aku menangkap dia sedang melihatku, dia langsung beralih
melihat Liam lagi. Aku hanya senyum.
Akhirnya sampai juga kita di
kantor produsernya. Basa-basi sebentar dengan produser dan
orang-orang disana. Lalu kita mulai sesi listening. Lagunya cukup
catchy dn upbeat. Saat sesi latihan dimulai, aku kagum sama suara
Lolita. Dia punya suara yang khas dan agak serak-serak gimana gitu.
“Lolita, Wait up!” Seruku
sambil ngejar dia yang lagi turun tangga. Kita barusan aja selesai
latihan pertama, dan dia bilang dia mau pulang duluan.
Dia berhenti lalu berbalik,
“Ya. What’s going on Harry?” tanyanya.
Aku berhenti berlari lalu
berjalan cepat menuju tangga dan berhenti didekatnya, “Well”
kataku sambil menggaruk kepalaku yang sebenarnya ga gatal, “How
about if we have lunch together.”
“I’d love to, but I
can’t.” katanya sambil lihat aku, “I have to do a video call on
skype with my friend.”
Aku langsung menawarkan hal
yang lain, “How does dinner sound like?” tanyaku sambil senyum.
“Yeah Sure. Here’s my
hotel and my room.” Dia nulis alamat hotelnya di selembar kertas
dan ngasi aku. Aku membacanya dan senyum. “Oh My God! I almost
forget to ask lou’s signature.” Dia berjalan kembali ke studio,
dan menemui Lou yang saat itu sedang memainkan macbook-nya. Dan aku
mengikuti Lolita dari belakang. “Lou.” Katanya sambil menyodorkan
sebuah t-shirt dan spidol.
Lou mendongak dan menaruh
macbook-nya di sebelahnya, “What’s this?” tanyanya sambil
meraih t-shirt dan membaca tulisan ‘ Marry Me Louis’ dia senyum
lalu menandatangani t-shirt itu.
“Are you a directioner too?”
Tanya Niall yang saat itu sedang duduk di sebelah Louis.
“Me? Well I am a
directioner” jawabnya sambil senyum, dan kita semua juga senyum,
dia cepat-cepat menambahkan, “but it’s my friend’s, she asked
me to get your signature, Lou. Ok I gotta go guys, see ya.”
Pamitnya saat Lou selesai menandatangi t-shirt itu.
Aku mengantar dia sampai di
depan kantor, “I’ll pick you up at 7 sharp. Be ready.” Kataku
gugup.
“I will” jawabnya sambil
senyum. “Bye.” Katanya lagi, lalu dia memanggil taksi, dan pulang
ke hotel – itupun kalau dia ke hotel. Lalu aku kembali masuk menuju
studio.
“Yo hazza, how was it?”
Tanya Zayn saat aku baru masuk ruangan.
“She said she was free at
dinner. So I asked her out for dinner.” Jelasku pada the boys.
“Perfect!” seru Liam dan
mengajakku hi five, “Congrats mate.” Katanya lagi sambil
memberiku a ber hug. Aku membalasnya dan senyum, “thanks Liam.”
“Does anyone know where I
can eat nandos here?” Tanya Niall. Kita semua saling pandang dan
mengedikkan bahu. No one knows. Dan ada seseorang di sana yang member
tahu kita dimana restaurant yang menyajikan menu nandos.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar