Harry Styles

Jumat, 11 Mei 2012

One Direction Fan Fiction (Bahasa Indonesia) "Jetlag" Part 3


*** Lolita’s POV ***
Dalam perjalanan pulang, aku hanya bisa senyum – senyum sendiri. Rasanya ga percaya. Harry asked me out for dinner. Baju apa nih yang harus aku pakai? Aku sama sekali ga bawa dress buat acara dinner. Aku terus berpikir keras tentang baju apa yang akan aku pakai nanti.
Waktu nyampe kamar, aku segera nyamber laptop yang aku taruh di meja dekat tempat tidur.Dan aku segera kasih tahuJennifer untuk segera online. Dan ga lama, kita uda ngobrol via skype.
Jenn! I’ve got Louis’ signature” kataku sambil nunjukin t-shirt yang uda ditanda tangani sama Lou., “They all knew that I’m a directioner.” Aku senyum.
Bagus donk itu loli. Kamu abis ketemu mereka?” aku mengangguk.
Kita habis nemuin produser buat latihan lagu duet kita. Oh iya.. Harry asked me out!!!!” kataku senang banget sampe-sampe hamper teriak.
What?!?! Aku juga mau!!!”
Uh-huh. Harry’s special for me,” kataku sambil melet, “Oh iya, aku belum nemu baju yang aku pake buat dinner nanti. Ok Jenn, I gotta go. Bye.”
Iya deh.. Salamin buat Niall ya. Suruh dia follow back dong. Bye.”
Gampang.” Aku segera mematikan laptop dan pergi ke seberang hotel. Disana ada sebuah toko baju. Walaupun bukan hasil rancangan dari designer terkenal, pakaian yang dijual cukup bagus.
Setelah memilih-milih dress yang aku suka, aku segera balik menuju hotel. Disana aku segera mandi dan siap-siap. Hapeku bunyi. Saat aku check ternyata ada mention dari Rio. Dia ngajak keluar lagi, tapi sayang banget aku ada acara dinner sama Harry.
Tepat pukul tujuh, belnya bunyi. Aku segera membuka pintu dan melihat Harry berdiri di depan pintu sambil senyum, yang menunjukkan kedua lesung pipinya. Oh My God. Aku bisa meleleh kalau aku ga kuat-kuatin diri ini. Dia pake t-shirt putih, jeans hitam, jas hitam, a pair of white all star shoes. Yes, I was a hundred percent agree if he was a prince charming.
*** Harry’s POV ***
Saat dia buka pintu, aku lihat dia dan aku segera memasang senyum. Aku sempat terpana. Dia memakai dres floral-knee length, and heels. Umm..I’m not pretty sure how inch it is, and with her red wavy hair. She’s just look perfect.
You ready?” tanyaku
Yeah, wait a minute.” She grabbed her clutch, “Ok, I’m ready.” Katanya sambil senyum.
Kita segera keluar dari hotel. Dan aku sudah menyewa sebuah limo buat dinner.
Is this yours?” tanyanya ga percaya, saat aku mempersilahkan dia untuk masuk ke limo.
Well, I rent it actually, “ jawabku, “Come in please, ma’am.” Kataku lagi.
Dia ragu sebentar, lalu masuk. Selama perjalanan menuju restaurant, kami ngobrol. Dia keliatan antusias, tapi tetep manis dengan cara dia. Saat sampai direstaurant yang sudah aku reserved sebelumnya, kita segera memesan makanannya.
Lolita.” Kataku tiba-tiba
ya.”
I took her hands and said, “I know we’ve met since yesterday, but I don’t know. I feel like you’re a different girl….” I stopped for a moment, “maybe it’s too fast for you, but will you be my girlfriend?”
Dia berpikir sebentar, “I’m sorry Harry.” Katanya dengan nada sedih, dan tentu saja aku jadi down denger jawaban dia. Saat aku mau melepas tangannya, dia balik yang megang tanganku, “Sorry that I can’t refuse it.” Dia senyum dan aku juga senyum.
*** Lolita’s POV ***
Ini sudah tiga bulan sejak hari terakhir aku ketemu Harry. Pada satu bulan pertama kita masih harus nyesuai’in beda time zone antara Indonesia sama Inggris, kalo kita mau video chat via skype. Nah setelah itu kita uda jarang banget chat. Tapi, kita masi sering DM atau PM via facebook. Lepas itu, bisa dua hari sekali dia baru jawab semua DM atau PM ku. Aku tahu dia dan bandnya memang sibuk. Aku juga sibuk dengan promo albumku di Indonesia. Pokoknya susah banget jalanin Long Distance Relationship kaya gini. Bayangin aja, kita terpisah beratus ribu mil jauhnya!
Masih ingat sama Rio. The guy I met at the airplane. Kita ketemu di suatu acara yang dia promotorin. Kita sempat dekat. Dan, tanpa di duga-duga, he said he loved me at the first sight. And I have to refuse it. Mungkin kalo orang lain yang jadi diriku, akan terima Rio. Tapi, aku percaya kalau Harry masih sayang sama aku.
Bulan ini, aku akan ke London! Finally, I would meet Harry. Aku juga mengajak Jennifer ke London. Karena kebetulan dia sedang libur. Aku kasih tahu Niall, Liam, Zayn and Lou. But, I didn’t tell harry. I begged them not to tell harry about my arrival. I wanted to make it as a surprise :)
Loli, gimana kalo kita sekarang ke London eye.” Ajak Jennifer saat kita tiba di Hotel tempat kita menginap di London.
That’s a good idea girl.” Jawabku sambil senyum. Aku lalu bilang ke manager ku kalo kami akan pergi berkeliling London.
We had a good time in London eye. Saat kita mau kembali ke Hotel, kita lihat kerumunan cewek-cewek London yang teriak-teriak histeris. Karena penasaran, kita cari tahu.
Aku tanya salah satu cewek di sana, “What’s happening?”
Dia jawab, “You won’t believe this!” jawabnya dengan histeris, “ There are Liam, Niall, Lou and Zayn in that cafe!”
Really?!?!?” tanya Jennifer hampir teriak. Dan gadis itu mengangguk.
Kita segera menerobos kerumunan itu dengan susah payah. Hingga kita ada di barisan terdepan. We saw they were chilling out. Aku coba memanggil mereka, tapi suaraku masih kurang keras dibandingkan dengan para directioners. Aku coba bicara sama beberapa officers disana, tapi mereka benar-benar tidak memperbolehkan aku dan Jennifer buat masuk ke dalam café itu. Sudah benar-benar hopeless, tiba-tiba Niall melihat kami yang sedang bicara sama salah satu officer, dan dia segera keluar. Sudah bisa dipastikan, teriakannya makin kenceng aja. Lalu, dia bicara dengan officer yang sedang bicara sama kita. Akhirnya kita dibolehin masuk. Sebelum masuk lagi kedalam ke dalam café, Niall menyempatkan diri untuk melambaikan tangan sebentar dan senyum buat para directioners.
Hey Lolita.” Sapa Zayn saat kita masuk, dia nunjuk sebuah kursi kosong disebelah kursi dia.
You don’t tell us if you are here.” Kata Liam.
I’ve arrived here since this morning. By the way, this is my friend, Jennifer. And Jenn, I think I don’t have to tell you who they are.” Kataku sambil memperkenalkan mereka sama Jennifer.
You’re cooler in person, Niall.” Kata Jennifer ketika mereka bersalaman, dan Niall hanya tersenyum.
You have to seduce him with food, if you want his attention.” Saran Lou. Kita semua tersenyum.
So, what time are we going to have the rehearsal tomorrow?” tanyaku.
Niall jawab, “After lunch.”
Alrighty then. And guys, you don’t tell Harry I’m here, do you?”
Nope” jawab mereka hampir bersamaan.

Keesokan harinya saat selesai sarapan di hotel, aku, Jenn, dan manajer aku pergi ke Buckingham palace. Kita sight seeing disana. Saat kita sedang jalan-jalan disekitar situ, ada beberapa orang yang minta foto bareng sama aku. Ternyata mereka tahu aku, karena aku kemarin diajak masuk ke café sama Niall. Awkward, right?
Jam makan siang kita ada di sebuah restaurant. Suasana restaurantnya cukup nyaman. Selesai dengan makan siangnya, kita bertiga segera menuju tempat rehearsal yang sudah diberitahu Liam kemarin, sebelum mereka perg

Tidak ada komentar:

Posting Komentar