One Direction Fan Fiction (Bahasa Indonesia) "Jetlag" Part 3
*** Lolita’s POV ***
Dalam perjalanan pulang, aku
hanya bisa senyum – senyum sendiri. Rasanya ga percaya. Harry asked
me out for dinner. Baju apa nih yang harus aku pakai? Aku sama sekali
ga bawa dress buat acara dinner. Aku terus berpikir keras tentang
baju apa yang akan aku pakai nanti.
Waktu nyampe kamar, aku segera
nyamber laptop yang aku taruh di meja dekat tempat tidur.Dan aku
segera kasih tahuJennifer untuk segera online. Dan ga lama, kita uda
ngobrol via skype.
“Jenn! I’ve got Louis’
signature” kataku sambil nunjukin t-shirt yang uda ditanda tangani
sama Lou., “They all knew that I’m a directioner.” Aku senyum.
“Bagus donk itu loli. Kamu
abis ketemu mereka?” aku mengangguk.
“Kita habis nemuin produser
buat latihan lagu duet kita. Oh iya.. Harry asked me out!!!!”
kataku senang banget sampe-sampe hamper teriak.
“What?!?! Aku juga mau!!!”
“Uh-huh. Harry’s special
for me,” kataku sambil melet, “Oh iya, aku belum nemu baju yang
aku pake buat dinner nanti. Ok Jenn, I gotta go. Bye.”
“Iya deh.. Salamin buat
Niall ya. Suruh dia follow back dong. Bye.”
“Gampang.” Aku segera
mematikan laptop dan pergi ke seberang hotel. Disana ada sebuah toko
baju. Walaupun bukan hasil rancangan dari designer terkenal, pakaian
yang dijual cukup bagus.
Setelah memilih-milih dress
yang aku suka, aku segera balik menuju hotel. Disana aku segera mandi
dan siap-siap. Hapeku bunyi. Saat aku check ternyata ada mention dari
Rio. Dia ngajak keluar lagi, tapi sayang banget aku ada acara dinner
sama Harry.
Tepat pukul tujuh, belnya
bunyi. Aku segera membuka pintu dan melihat Harry berdiri di depan
pintu sambil senyum, yang menunjukkan kedua lesung pipinya. Oh My
God. Aku bisa meleleh kalau aku ga kuat-kuatin diri ini. Dia pake
t-shirt putih, jeans hitam, jas hitam, a pair of white all star
shoes. Yes, I was a hundred percent agree if he was a prince
charming.
*** Harry’s POV ***
Saat dia buka pintu, aku lihat
dia dan aku segera memasang senyum. Aku sempat terpana. Dia memakai
dres floral-knee length, and heels. Umm..I’m not pretty sure how
inch it is, and with her red wavy hair. She’s just look perfect.
“You ready?” tanyaku
“Yeah, wait a minute.” She
grabbed her clutch, “Ok, I’m ready.” Katanya sambil senyum.
Kita segera keluar dari hotel.
Dan aku sudah menyewa sebuah limo buat dinner.
“Is this yours?” tanyanya
ga percaya, saat aku mempersilahkan dia untuk masuk ke limo.
“Well, I rent it actually, “
jawabku, “Come in please, ma’am.” Kataku lagi.
Dia ragu sebentar, lalu masuk.
Selama perjalanan menuju restaurant, kami ngobrol. Dia keliatan
antusias, tapi tetep manis dengan cara dia. Saat sampai direstaurant
yang sudah aku reserved sebelumnya, kita segera memesan makanannya.
“Lolita.” Kataku tiba-tiba
“ya.”
I took her hands and said, “I
know we’ve met since yesterday, but I don’t know. I feel like
you’re a different girl….” I stopped for a moment, “maybe
it’s too fast for you, but will you be my girlfriend?”
Dia berpikir sebentar, “I’m
sorry Harry.” Katanya dengan nada sedih, dan tentu saja aku jadi
down denger jawaban dia. Saat aku mau melepas tangannya, dia balik
yang megang tanganku, “Sorry that I can’t refuse it.” Dia
senyum dan aku juga senyum.
*** Lolita’s POV ***
Ini sudah tiga bulan sejak
hari terakhir aku ketemu Harry. Pada satu bulan pertama kita masih
harus nyesuai’in beda time zone antara Indonesia sama Inggris, kalo
kita mau video chat via skype. Nah setelah itu kita uda jarang banget
chat. Tapi, kita masi sering DM atau PM via facebook. Lepas itu, bisa
dua hari sekali dia baru jawab semua DM atau PM ku. Aku tahu dia dan
bandnya memang sibuk. Aku juga sibuk dengan promo albumku di
Indonesia. Pokoknya susah banget jalanin Long Distance Relationship
kaya gini. Bayangin aja, kita terpisah beratus ribu mil jauhnya!
Masih ingat sama Rio. The guy
I met at the airplane. Kita ketemu di suatu acara yang dia
promotorin. Kita sempat dekat. Dan, tanpa di duga-duga, he said he
loved me at the first sight. And I have to refuse it. Mungkin kalo
orang lain yang jadi diriku, akan terima Rio. Tapi, aku percaya kalau
Harry masih sayang sama aku.
Bulan ini, aku akan ke London!
Finally, I would meet Harry. Aku juga mengajak Jennifer ke London.
Karena kebetulan dia sedang libur. Aku kasih tahu Niall, Liam, Zayn
and Lou. But, I didn’t tell harry. I begged them not to tell harry
about my arrival. I wanted to make it as a surprise :)
“Loli, gimana kalo kita
sekarang ke London eye.” Ajak Jennifer saat kita tiba di Hotel
tempat kita menginap di London.
“That’s a good idea girl.”
Jawabku sambil senyum. Aku lalu bilang ke manager ku kalo kami akan
pergi berkeliling London.
We had a good time in London
eye. Saat kita mau kembali ke Hotel, kita lihat kerumunan cewek-cewek
London yang teriak-teriak histeris. Karena penasaran, kita cari tahu.
Aku tanya salah satu cewek di
sana, “What’s happening?”
Dia jawab, “You won’t
believe this!” jawabnya dengan histeris, “ There are Liam, Niall,
Lou and Zayn in that cafe!”
“Really?!?!?” tanya
Jennifer hampir teriak. Dan gadis itu mengangguk.
Kita segera menerobos
kerumunan itu dengan susah payah. Hingga kita ada di barisan
terdepan. We saw they were chilling out. Aku coba memanggil mereka,
tapi suaraku masih kurang keras dibandingkan dengan para
directioners. Aku coba bicara sama beberapa officers disana, tapi
mereka benar-benar tidak memperbolehkan aku dan Jennifer buat masuk
ke dalam café itu. Sudah benar-benar hopeless, tiba-tiba Niall
melihat kami yang sedang bicara sama salah satu officer, dan dia
segera keluar. Sudah bisa dipastikan, teriakannya makin kenceng aja.
Lalu, dia bicara dengan officer yang sedang bicara sama kita.
Akhirnya kita dibolehin masuk. Sebelum masuk lagi kedalam ke dalam
café, Niall menyempatkan diri untuk melambaikan tangan sebentar dan
senyum buat para directioners.
“Hey Lolita.” Sapa Zayn
saat kita masuk, dia nunjuk sebuah kursi kosong disebelah kursi dia.
“You don’t tell us if you
are here.” Kata Liam.
“I’ve arrived here since
this morning. By the way, this is my friend, Jennifer. And Jenn, I
think I don’t have to tell you who they are.” Kataku sambil
memperkenalkan mereka sama Jennifer.
“You’re cooler in person,
Niall.” Kata Jennifer ketika mereka bersalaman, dan Niall hanya
tersenyum.
“You have to seduce him with
food, if you want his attention.” Saran Lou. Kita semua tersenyum.
“So, what time are we going
to have the rehearsal tomorrow?” tanyaku.
Niall jawab, “After lunch.”
“Alrighty then. And guys,
you don’t tell Harry I’m here, do you?”
“Nope” jawab mereka hampir
bersamaan.
Keesokan harinya saat selesai
sarapan di hotel, aku, Jenn, dan manajer aku pergi ke Buckingham
palace. Kita sight seeing disana. Saat kita sedang jalan-jalan
disekitar situ, ada beberapa orang yang minta foto bareng sama aku.
Ternyata mereka tahu aku, karena aku kemarin diajak masuk ke café
sama Niall. Awkward, right?
Jam makan siang kita ada di
sebuah restaurant. Suasana restaurantnya cukup nyaman. Selesai dengan
makan siangnya, kita bertiga segera menuju tempat rehearsal yang
sudah diberitahu Liam kemarin, sebelum mereka perg


Tidak ada komentar:
Posting Komentar